Dalam hitungan kurang dari sebulan lagi, bulan ramadhan akan tiba, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dan bulan yang ditunggu - tunggu oleh seluruh umat islam di dunia. Tidak terasa ya? Rasanya baru kemarin mudik lebaran dan macet - macet di jalan bareng pemudik lainnya. Betapa banyak sekali keutamaan yang didapatkan oleh Umat islam di bulan ramadhan ini.
Apa saja keutamaan bulan ramadhan?
- Bulan diturunkannya Alquran
- Amal sholeh yang berlipat ganda
- Bulan penuh berkah
- Bulan pengampunan doa dan dikabulkan doa - doa
- Terdapat malam lailatul Qodar
MasyaAllah ya, bagaimana tidak menjadi bulan yang dirindukan oleh banyaknya umat islam di dunia saat tahu bagaimana keutamaan yang ada di dalamnya.
Bagi seorang perempuan, ketika menunggu kedatangan bulan ramadhan tidak hanya sekedar menunggu atau mempersiapkan diri, tapi juga mengingat apakah ada hutang puasa di tahun sebelumnya. Sudah menjadi kodrat bagi sebagian besar perempuan termasuk saya akan mengalami menstruasi setiap bulan dan diharamkan untuk berpuasa. Belum halangan jika sakit, hamil atau menyusui. Pada saat itulah, harus dicatat berapa hari kita meninggalkan puasa agar tidak ada yang terlewat untuk dihitung dan akhirnya tidak terbayar hutangnya.
Menurut saya salah satu ujian untuk perempuan ketika sudah selesai bulan ramadhan apabila mempunyai hutang puasa. Saya pernah merasakan sekali beratnya membayar hutang ketika hari -hari biasa. Bukan berat fisik tapi berat biat dan hati. 10 bulan terlewat begitu saja, baru niat beneran ketika 1 bulan mendekati bulan ramadhan tahun selanjutnya. Ngapain saja coba 10 bulan itu? Kenapa tidak menggunakan waktu sebaik baiknya, membayar puasa di awal - awal bulan setelah ramadhan selesai. Bukankah hati akan lebih tenang? Tapi itulah yang namanya hati, tergoda dan dibolak balikkan setan. Semoga saya lebih istiqomah lagi. Amiinn
Menurut saya salah satu ujian untuk perempuan ketika sudah selesai bulan ramadhan apabila mempunyai hutang puasa. Saya pernah merasakan sekali beratnya membayar hutang ketika hari -hari biasa. Bukan berat fisik tapi berat biat dan hati. 10 bulan terlewat begitu saja, baru niat beneran ketika 1 bulan mendekati bulan ramadhan tahun selanjutnya. Ngapain saja coba 10 bulan itu? Kenapa tidak menggunakan waktu sebaik baiknya, membayar puasa di awal - awal bulan setelah ramadhan selesai. Bukankah hati akan lebih tenang? Tapi itulah yang namanya hati, tergoda dan dibolak balikkan setan. Semoga saya lebih istiqomah lagi. Amiinn
Berikut saya copykan Quenstion & A dari www.konsultasisyariah.com tentang kewajiban membayar puasa :
Apa hukum untuk orang yang memiliki hutang ramadhan beberapa tahun, dan belum diqadha hingga sekarang. Mohon penjelasannya. Matur nuwun
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)
Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)
Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,
الشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
A’isyah, istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga A’isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan sya’ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَان: أَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر
Disimpulkan dari semangatnya A’isyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191).
Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?
Sebagian ulama memberikan rincian berikut,
Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.
Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga utang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk ramadhan berikutnya.
Jawaban yang beliau sampaikan,
ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم
Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnyam hingga datang ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari utang puasanya.
Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/572/
Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:
- Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
- Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
- Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?
Bagian ini yang diperselisihkan ulama.
Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.
As-Syaukani menjelaskan,
وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًا”: استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم: ابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadis ini dan hadis semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.
At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,
وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا
Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)
Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-aqarah: 184)
Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.
Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,
هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع
Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).
Comments
At least 160k men and women are trying a simple and secret "liquids hack" to drop 2 lbs every night as they sleep.
It's very easy and works all the time.
You can do it yourself by following these easy steps:
1) Get a drinking glass and fill it up with water half the way
2) Now learn this crazy HACK
so you'll become 2 lbs thinner when you wake up!