Rabu, 16 November 2011

Home Sweet Home^^

Alhamdulillah, tepat 5 bulan kami menempati rumah baru kami, di jakarta coret alias depok,, tepatnya tanggal 15 juni 2011 kmrn kami resmi menempati, tapi kalo di itungan jawa sih pindahnya abis lebaran, hihihiih .Indentnya sih sudah sejak november 2010, butuh waktu 7 bulan untuk nyelesaiin pembangunan, molor 3 bulan dari yang di janjikan #sigh. Kalo orang lebih mengenal tanah baru itu masuk wilayah beji, kalo perumahanku mepet2 beji tapi sudah masuk pancoran mas, jadi agak bingung2 kalo di tanya, cause persepsi orang kalo dah pancoran mas pasti lewat jl. raya sawangan, padahal kalo rumah kami masih2 di sekitaran jl. raya tanah baru:D.
Awalnya kami ga pernah kepikiran untuk bisa membeli rumah di daerah2 situ cause harganya cukup mihil untuk ukuran kantong kami yang belum genap 2 tahun menikah, plus tabungan sangat mepet...hehhee. Tapi mungkin karena emang udah rezeki, Allah begitu melancarkan jalan kami, ada aja rezeki yang diberikan sampe akhirnya kami bener2 bisa akad dengan bank dan memulai KPR kami, meski ngos2-an untuk nutupin DP dan biaya lain2.....jadi tetep harus saving tiap bulan untuk cicilan, bedanya kalo dulu uang melayang untuk bapak kontrakan, skrg bisa untuk ivestasi kami..^^
Sebenarnya saat itu kami punya beberapa pilihan untuk harga rumah yang lebih murah, tapi karena posisi jauh dengan tempat kerja (Sama2 jauhnya, tapi lebih jauh lagi...hihih) plus susah dari jalur angkot..akhirnya pilihan kami tetap di rumah ini, rumah yang skrg bisa kami apa2kan kecuali merubah bentuk bangunan depan..hahaha.. bisa kena semprit pemda nanti:D. 

Beberapa alasan yang membuat kami mantap mengambil rumah ini :
  1. Sekitar 7 menit ke stasiun depok baru, jadi kalo misal ga bisa bareng suami, saya bisa lebih mudah menjangkau stasiunnya tanpa harus berangkat pagi2 banget
  2. Hanya 15 meter dari perumahan ke jalan raya yang dilewati angkot 105, yang bisa ke arah ITC Depok dan stasiun, plus kalo pulang juga cuman 1 angkot dan sekitar 10 menit saja. ke margonda juga ga jauh, jadi kalo mau ngemall bisa sesuka hati:D
  3. Sistem 1 gate dengan satpam, dan hanya 27-an kavling, jadi ga terlalu rame tapi juga ga sepi2 banget.
  4. Bangunan bata merah, trus dalem bisa di desain sendiri, jadi kami bisa langsung nambah 1 kamar buat pengasuhnya raihan dan 1 kamar mandi dalam buat kamar utama pas di bangun:D
  5. Sekitar 1 jam kalo ke kantorku dan 30 menit ke kantor suami:D, lumayanlah....hihihihii, masih bisa berangkat jam setengah 7 pagi:D, masih bisa jalan2 ma raihan.
dan beberapa alasan lain yang membuat kami semakin yakin^^

Kompleks perumahan kami udah hampir penuh, sisa 2 kavling lagi dan 1 ready stock, tepatnya di cahaya residence, tanah baru, depok. Berharap sih segera terjual semua, biar taman bermain segera dibangun n udah ga ada truk yg masuk ke kompleks, hhehhehe. Bersyukur juga tetangga2nya baik2 semua...kompak dan saling membantu satu sama lain. Foto2nya nyusul..pengen upload, tapi pas ga bawa..he he he:D


Minggu, 30 Oktober 2011

Sebuah artikel dari seorang pemimpin

Saat saya buka email di hrd@trading.indonesia.com alias email kantor khusus divisi saya, begitu saya sangat tertarik dengan sebuah email yang berjudul FW : Dahlan Iskan, karena memang setelah beliau diangkat menjadi Menteri BUMN, saya begitu salut dengan sosok sederhana dan  cerita2 beliau yang saya banyak dengar di Media Massa. Ada beberapa kalimat yang saya garis miring dalama artikel,krena itu kalimat - kalimat yang sangat saya tunggu dari seorang pemimpin....^^

Berikut copy paste dari email yang saya terima tersebut :

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang "baru"
enam bulan. Ada yang bilang "sudah" enam bulan.
Betapa relatifnya waktu.
Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya
tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang
kerja Dirut PLN.
Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit
lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai
bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin
saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya
pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.
Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya
memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat
transplan yang masih harus saya minum setiap hari.
Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang
telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri.
Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang
sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut
PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik.
Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa
pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya
bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak
ke mana-mana.
Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus
berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak
bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan
bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi
atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.
Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat
kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan
olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada
rapat yang bisa saya hadiri.
Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya
kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke
mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik.
Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya
terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status
saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga
harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan
ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.
Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari
rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di
Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan
supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada
gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.
Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas
jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan
merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan,
saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang
bercucuran.
Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya
utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat.
Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi
kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.
Betapa relatifnya jarak.
Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada
pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian
juga beberapa relasi PLN lainnya.
Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga
tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di
lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang
karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus
bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.
Betapa relatifnya uang.
Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan
sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat
untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk
dipecahkan.
Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih.
Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat
hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari
para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan
jenakanya.
Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal
PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang
dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.
Yang tidak ada pada mereka adalah muara.
Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara.
Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan
kandas
. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh.
Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu
siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di
ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide,
berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN
bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang
menyenangkan.
Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.
Betapa relatifnya tempat.
Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik
jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau
dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.
Betapa relatifnya jiwa.
Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi"
direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak
sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak
pernah membaca surat masuk.
Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung
didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat
itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka,
untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang
lebih pas menjawabnya?
Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk
kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi.
Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan?
Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk
menunjukkan bahwa saya atasan mereka?
Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang
sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya
saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi
seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik
petunjuk"?
Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada
tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca
surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa
yang terbaik yang harus dilakukan.
Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari
universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu,
doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka
sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.
Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering
diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi
akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi
ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta
petunjuk".
Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari
universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali
kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan
kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan,
rasa tanggung jawabnya akan muncul
. Kalau toh ada yang tidak seperti itu,
hanyalah pengecualian.
Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama.
Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap
duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan
saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.
Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin
karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan
seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.
Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun
belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk
semestinya.
Betapa relatifnya sebuah kekuasaan.
Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?
Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di
seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama,
mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur
Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat
tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14,
sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh
dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).
Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan,
ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi
PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu
lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama
DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang
menaikkan atau menurunkan TDL?
Betapa relatifnya kepuasan.
(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah
cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh
karyawannya. Surat itu diberi nama CEO's Note. Tujuannya, seluruh karyawan
PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan
keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO's Note terbit, banyak
tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah
CEO's Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).
Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi
teladan bagi bawahan dan demokratis ???

copy dari : Didik I. Kuntadi BlackBerryR
Powered by Telkomsel BlackBerryR
Karena hasil copy paste, jadi agak awut2-an dehhh..hihihi......


Jumat, 28 Oktober 2011

yes....it's u....^^

Temanku ini hanya aku kenal dekat  secara langsung 3 bulan, karena setelah itu kita dipisahkan oleh jarak...lebih tepatnya karena dia sudah tidak berada ditempat yang sama denganku saat ini^^. Ada satu hal penting yang membuat ak belajar dari dia, bagaimana bersikap dan survive dengan keadaan yang membuat tidak nyaman dan tertekan. wanita berpendirian kuat dan tidak takut berkata "saya tidak suka", wanita yang berani mengutarakan isi hati dia saat merasa benar dan sangat mengerti arti seorang "teman". Teman yang selalu mengingatkanku untuk survive dengan orang2 yang egois dan tidak mau tau perasaan orang lain. Seseorang yang mengajariku untuk mengerti arti perasaan teman dan bagaimana bersikap dengan orang - orang yang hanya mementingkan kesenangan mereka sendiri. Tapi mungkin satu hal yang sampai skrg masih beda, aku belum bisa tegas dengan ketidaksukaanku, ak masih harus menaik turun-kan hatiku untuk berdamai dengan lingkungan dan orang - orang yang kadang seenaknya sendiri..yang itu pernah sangat membuatnya kecewa padaku, terkesan aku sangat tidak peduli dengan hatinya...padahal saat itu ak harus sangat sedih kehilangan sosok dia. Mencoba merangkai satu demi satu kepingan untuk dapat membuat dia kembali mengerti, bahwa dia satu sosok yang begitu menginspirasiku saat itu^^

yap...makasih untuk dirimu...^^, ak yakin akan ada kesuksesan lebih besar yang kamu dapat setelah kamu memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.......





Kamis, 27 Oktober 2011

Ngolshop.."Antara hobi shopping dan jualan"

Iyap....kalo udah mulainya dengan kata iyappp, berarti lagi semangat, meski mual masih dikit2....hihihi

Sudah sejak bulan maret 2011 bunda mencoba di dunia baru yang ternyata mengasyik-kan dan skrg lagi booming, menjamur dimana mana...OL-SHOP, hehehehe. Berawal dari coba - coba karena punya temen yang jualan di fb, dan bunda banyak beli ke dia...xixixixi, otomatis saat itu itungan2 mulai berjalan, wah...kalo beli 1 harga 55ribu, tapi kalo beli banyak bisa dapet harga 30ribu, itang itung itang itung, lumayan lohh, temenku 1 pcs bisa untung 20 - 35ribu...ck ck ck (meskipun pas jualan beneran, bunda sangat jarang ngambil untung sebanyak itu), akhirnya...taraaaa..bunda pun berkeinginan buat beli banyak trus dijual lagi. Hunting FB, lirak lirik olshop tetangga di FB...ketemulah nama "Arinda Aigi W"...jualan baju renang muslimah dan earpick serta produk2 lainnya. Liat harga earpick yg cuman 15ribu/pcs, dan saat itu bunda hanya punya modal 200ribu:D, akhirnya bunda beranikan message mba arin..
Bunda : " Mba, kalo mau dijual lagi, earpick hrs beli brapa trus harga brapa ya"
mba arin : "Boleh, harga blablabla, minimal blablabla"
Bunda : oke dehhh......ak ambil ya mba:) (berharap akan segera laku, karena modal pas-pas an"
mba arin : alamat lengkap ya?
Bunda : Bla bla bla, ragunan, jaksel (Waktu itu bunda masih kontaktor dan blum punya rumah sendiri"
mba arin : oke total xxxxxxx, transfer ke xxxxx

Alhamdulillah deal transaksi, bunda ke atm dan transfer sejumlah uang dengan modal kepercayaan:D. Sip, selesai deh.....tinggal nunggu barang dikirim. Malamnya, bunda upload satu barang jualan itu ke FB, plus karena mba arin jual baju renang dan boleh DS (dropship), akhirnya bunda coba juga pasang baju renang, siapa tau ada yg minat. Alhamdulillah...rezeki dari Allah, besoknya ada sms masuk, buyer pertama bunda namanya mba ninik ika, orang lampung "mba, mau dong aerpicknya, kalo ambil banyak berapa"..deal (dengan rasa dihati yang tidak bisa tergambarkan)...akhirnya laku 6 pcs dari 12 pcs..trus tetangga ada yg ambil, temen kantor juga....dalam 2 hari bisa balik modal plus untung yg ga banyak tapi alhamdulillah bisa nambahin modal:D. Baju renang juga mulai ada yg nglirik, dan sedikit demi sedikit udah mulai ada yang tau kalo bunda jualan...*thanks to mba arin dan nana (temen yang udah memperkenalkanku di dunia olshop) "

Modal akhirnya bunda puter lagi dan ada rezeki dikit buat nambah jualan, akhirnya bunda beli 1 set topbaby hat (isi 13pcs) dan legging busha (12pcs), total kulakan sekitar 600ribu:), dan langsung bunda pasang di fb....alhamdulillah....ga ada 2 jam, ada yg sms, message di inbox nanya jualan bunda....beberapa hari barang bunda laku deh (neski saat itu ada pengalaman pertama bunda yang ga mengenakkan, cause barang yg bunda pesan aslinya ga sebagus gambarnya, dan demi memuaskan pelanggan, bunda kasih diskon dan ngambil margin dikittttt banget daripada buyer kecewa, he he he),. Oh ya yg beli pas itu buyer dari makassar yang sampai sekarang setia jadi pelanggan bunda dan tetangga temen yg liat fb bunda dari temen bunda:D....plus tetangga juga ikut nglirik, juga temen smu dan temen kuliah bunda....sms2, inbox fb, bbm yg nanya jualan meski akhirnya ga jadi pun bikin bunda semangat untuk trus nambah jualan:), prinsip bunda saat itu margin dikit gpp yang penting muter^^ dan pelanggan puas dengan pelayanan olshop bunda.


Awal2 jualan emang agak ribet, manajemen waktu lum bagus, masih bingung soal packing, kirim ke jne juga dll, alhamdulillah ayah ngedukung banget kegiatan bunda. Dan point penting, bunda harus bisa bagi waktu antara kerjaan kantor dan jualan ini, terutama tetep yang paling penting adalah raihan dan rumah. Tapi lama2 bunda mulai belajar untuk manajemen waktu, packing yang bagus dan kirim barang tanpa hrs ganggu kerjaan kantor bunda dan suami:). Sebulan kemudian, bunda menemukan nama olshop dan mulai bikin kartu nama, jualan bunda juga udah mulai beragam yang tetep fokus di baby n kids stuff. Kifalfhad's kids shop, itu nama yang bunda pilih untuk olshop bunda, singkatan dari kifty dan alfadhil (nama tengah raihan), ayah ngalah ya namanya ga masuk...hihihihi:D. sampe sekarang nama itu masih bunda pake, dan menemani perjalanan bunda sedikit demi sedikit membangun olshop ini. Mungkin sampe detik ini bunda masih belum full untuk menjalaninya krn waktu masih terbagi dengan kerjaan kantor, catatan keuangan masih amburadul, tapi bunda bersyukur olshop bunda masih bertahan dengan pelanggan yang semakin banyak. Pelanggan2 yang begitu baik dan tidak hanya sekedar hubungan "pembeli dan penjual", tapi banyak yg akhirnya jadi teman curhat, teman main juga..hehehehhe.


Semenjak hamil anak kedua ini bunda mulai menurunkan ritme jualan, takut kecapek'an...karena kebetulan kerjaan di kantor pas lagi banyak2nya. Tapi karena banyak buyer yang nanya2 jualan bunda, order barang2 yang belum bunda stock, dan semangat dari temen2 olshop yg lain (nandrina group is the best)...akhirnya bunda mulai stock barang2 lagi...^^. meski ga sebanyak dulu, tapi masih terus muter dan ga sampe numpuk di box..he he he.

Berharap smoga bunda bisa full disini, bersyukur bunda mengenal dunia ini dan menjadi batu pijakan bunda jikalau nanti ada jalan dari Allah untuk jadi ftm, krn memang working mom's sampai saat ini masih bunda pilih karena banyaknya pertimbangan yang menurut bunda sangat penting:).


Thanks buat teman2 yang selalu menyemangati bunda, temen2 olshop yang selalu berbagi info suplier dan produk terbaru....buat pelanggan2 bunda yang tidak hanya sekedar pembeli tapi juga teman2 yang menyenangkan^^. Thanks terdalam untuk ayah dan makmi (pengasuh raihan) yang selalu siap sedia saat bunda butuh bantuan buat kirim dan packing^^. It's Amazing..bunda bersyukur bisa ada dalam dunia "per-olshop-an  ini....:)"







Rabu, 26 Oktober 2011

New Spirit buat Ngeblog #dimulai dari cerita kehamilan ke dua#

Untuk kesekian kalinya blog ini hampir 10 bulan ga terjamah oleh yang punya yaitu saya sendiri, hehehhee....ga tau knapa...sbnrnya keinginan menulis itu begitu besar, tapi kalo tanpa action tetep aja jadinya nol..

Ada berita terbaru dari bkurniawan's family...yup, alhamdulillah sebulan kmrn bunda dinyatakan positif hamil anak kedua dengan usia kandungan yang kata dokternya 1,5 bulan (padahal bunda ngrasanya baru sebulan kmrn dapet mens, hihihihihi). Kakak raihan sekarang sudah hampir 20 bulan, yang artinya pas nanti adeknya lahir kakak raihan usianya sekitar 2,5 th...alhamdulillah....

Kehamilan ke dua ini memang beda ama yg pertama, bunda mengalami mual akut...sering neg kalo mau maem, bawaannya tapi laper mulu..kalo pagi jatah makannya bisa 2 kali, jam 6 pagi lanjut jam 9 pagi...gimana ga mau gendut. Kalo udah mau jam makan siang, bawaannya ga doyan makan tapi laper, jadi hrs tetep dipaksa, sore juga gitu..pulang kantor bawaannya mual2 dijalan dan akhirnya berhenti di jalan buat numpang nyalurin kemualan bunda. Semenjak hamil pun bunda ga pernah naek kereta, khawatir desek2-an dan ga dapet tempat duduk (perut bunda kan masih kecil, ga ketauan kalo hamil dan pasti ga ada yang mau kasih tempat duduk:(, nunggu nti keliatan besar aja..hahahhaha). Tapi, dedek ini pinter kalo di ajak travelling dias luar kota, anteng..dan bunda ga mual2 di jalan..kaya'nya emang maunya diajakin ke mana mana ya dek:D, beda ama kakak raihan..kalo kakak raihan mau-nya di rumah aja..ga suka traveling pas bunda hamil dia dulu.

Besok sabtu jadwal ke dokter kandungan lagi, satu hal yang harus bunda syukuri, smua biaya periksa kehamilan sampai kelahiran di tanggung oleh Kantor Bunda, begitu juga dengan biaya kesehatan Kakak Raihan. Alhamdulillah kakak raihan sampai sekarang selalu sehat, kalopun ada masalah paling pilek dikit2...itupun 1 - 2 hari saja.

Episode selanjutnya sebenarnya bunda pgn lebih banyak bercerita tentang Kakak Raihan, Adek yang diperut, juga hal - hal mengasyikkan di b'kurniawan's family....berusaha untuk selalu update. Berharap nanti Kakak raihan dan adek akan baca kalo dah ngerti^^

Enjoy blogging........pengen tiap hari bisa coret coret disini lagi^^







Kamis, 20 Januari 2011

Kenyamanan itu di hati....^_^

Tiba - tiba terinspirasi menulis tentang kenyamanan......setelah bertahun - tahun mencoba menemukan arti nyaman sebenarnya di hati...he he he

Menjadi ibu rumah tangga adalah profesiku dan wanita karier adalah sampinganku dengan tetap menjaga prinsip profesionalisme, begitulah ak menyebut diriku. Aku tidak ambisi untuk sukses di dunia karier karena aku menganggap kesuksesan terbesarku adalah saat aku bisa menjadi ibu yang hebat buat raihan dan istri yang shalehah buat mas bagus,dan ak ingin melakukan sebaik - baiknya apa yang sudah menjadi tanggungjawabku, baik di rumahtanggaku atau di lingkungan kantorku. Aku bekerja  karena memang ada sebuah cita - cita yang ingin kami raih berdua demi kami , raihan dan orang tua....alhamdulillah, selama ak masih bisa menghandle semua, ak akan menjalani ini semua dengan berusaha nyaman^_^.

Allah begitu mempermudah jalan kami setelah menikah. Bersyukur punya suami yang begitu sabar dan mendukung semua kegiatanku, Ridho-nya untukku membuatku semakin tenang menjalani ini semua. Alhamdulillah juga 3 bulan menikah Allah menitipkan janin di kandunganku, dan lahir putra kami tercinta. Begitu mudah juga ak mendapatkan khadimat yang sangat dikenal ibu'ku. Orangnya sudah cukup usia, pengalaman dengan 4 anak dan cocok denganku, membuatku tenang meninggalkan raihan, meski memang rasa kangen dan keinginan selalu bersama selalu muncul disela sela aku bekerja. Satu setengah tahun menikah Allah juga memberikan kemudahan kami untuk memiliki rumah yang dekat dengan stasiun kereta, dekat dengan keramaian kota depok juga dekat dengan jalur angkot meski KPR, dan sekarang tinggal bagaimana kami mensyukuri dan selalu berusaha mendekatkan diri pada-Nya dan menjadikan keluarga sakinah sebagai bentuk rasa syukur kami.

Tapi, dibalik kebahagian2..kemudahan2...Allah juga pasti akan selalu memberikan ujian untuk hamba-Nya, agar selalu intropeksi dan semakin memperbaiki diri. Begitu juga dengan kami. Inilah hidup...tidak ada nano -nano kalo semua lurus - lurus bukan? tapi sekarang tinggal bagaimana menyingkapi. Dan alhamdulillah sampai detik ini semua bisa kami lewati......dan semoga ini selalu menempa kami untuk selalu lebih tegar menghadapi kehidupan ini. Amien Ya Rabb...

Kembali ke rasa nyaman dan tidak nyaman, sudah 4 tahun ak bekerja dan rasa nyaman itulah yang kucari selain gaji dan upgrade ilmu pastinya...dan setelah menikah aku berharap apapun yang terjadi di lingkungan kerja ga akan pernah membuat moodku berubah saat bertemu suami dan anakku. Tapi ternyata beberapa bulan kemarin hal itu terkadang masih terjadi..sehingga ak hrs segera menemukan rumus terbaik untuk mengatasi masalah itu karena ak hrs kembali menjadi seorang istri penyejuk suami dan penghangat hati anakku jika di rumah. Jangan sampai hal - hal ga enak dikantor berimbas ga baik juga untuk ayah dan raihan.
Alhamdulillah akhirnya beberapa minggu belakangan ini ak sudah bisa menata hati dan menyamankan hatiku...meski sebagai manusia biasa, pasti tetep aja ngrasa gimanaaaa gitu saat keadaan juga ga kondusif. Tapi intinya, buatlah hati nyaman....cuek dengan hal - hal yang ga ngenakin, biarkan semua berlalu...dan akhiri dengan mendamaikan hati. Ak hanya ingin kerjaan yang menjadi tanggungjawabku bisa ak selesaikan sebaik mungkin, dan segera kembali ke rumah. Ga perlu meributkan or membicarakan hal - hal ga penting yang bisa buat hati semakin panas. Kembali ke niat awal apa tujuan bekerja. Intinya selalu mencoba berdamai dengan lingkungan.....^_^, tidak perlu menuntut lingkungan menjadi kondusif atau sesuai keinginan, tapi bagaimana ak bisa membuat hatiku tetap survive dilingkungan yang tidak kondusif sekalipun...ak yakin, selama kita mencoba menerima semua kejadian dengan tenang dan santai serta positif thingking, maka dengan mudah hal - hal yang mengganggu juga akan bisa dilalui.....selalu belajar dan belajar....

Jadi....sebenarnya apa arti kenyamanan dan kebahagian? menurutku itu semua ada dihati kita masing2...hanya mencoba menjalani semua dengan sebaik - baiknya. Menikmati semua yang ada diberikan pada kita...memang tidak mudah...karena saat ini aku juga sedang berusaha....^_^. Semangattttttttttttttttt

~~~~~ayah n raihan....love u full~~~~~~