Ini adalah tulisan ke-dua tentang "Aku", dan menulis tentang "Aku" lagi karena ada tantangan ODOP di minggu ini. Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang "Aku" di sini. Sempat bingung apa lagi yang harus saya tulis, karena tulisan yang sebelumnya cukup lengkap juga menceritakan tentang "Aku". Jadi, sekarang sepertinya saya akan lebih bercerita tentang perjalanan ketika jauh dari kampung halaman alias ketika menjadi anak perantauan.
![]() |
| Gambar dari google |
SMA saya jaraknya 20 km dari desa saya lahir, sebenarnya kalau ditempuh naik motor sih tidak terlalu jauh, tapi karena waktu itu belum 17 tahun, saya belum boleh mengendarai motor karena belum bisa mempunyai SIM. Jarangnya angkutan yang mengantar ke tempat saya sekolah, akhirnya membuat saya harus kost di dekat sekolah, demi bisa sekolah di salah satu SMA favorit. Berapa harga kost saya sebulan waktu itu? Hanya 10ribu rupiah, satu kamar ber enam, rame ya😁. Murah sekali bukan kalau di lihatnya pakai ukuran harga sekarang, hehehe. Bertahan kost sampai kelas tiga loh, meski saat kelas tiga sesekali orang tua membolehkan saya mengendarai motor karena sudah boleh punya SIM. Bersyukur saat SMA sudah belajar mandiri meski belum sepenuhnya, karena saat itu seminggu sekali bisa pulang bahkan terkadang tiap hari rabu dan jumat saya selalu pulang ke rumah.
Setelah lulus SMA saya memulai petualangan baru lagi dengan tinggal di kota yang lebih jauh dari sebelumnya. Keberuntungan saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya membuat saya harus berani jauh dari orang tua. Mulai dari daftar ulang dan mencari kost baru saya lakukan sendiri. Saya benar - benar baru pertama kali itu tahu daerah karangmenjangan, gubeng kertajaya dan sekitarnya. Jalan kesana kemari mencari kost yang kosong masih sangat saya ingat sampai detik ini,bersama teman SMA saya yang sekarang saya kehilangan jejaknya, tidak ada di FB, IG atau media sosial lainnya, nomor hp yang sudah ganti dan tidak ada satupun teman yang saya tanya mengetahui keberadaannya.
Lima tahun saya di Surabaya, 4.5 tahun menyelesaikan kuliah dan setengah tahun dengan status saya sebagai staf HRD di salah satu lembaga sosial terbesar di Surabaya ( harusnya satu tahun, yang setengah tahun saya nyambi kuliah). Bersyukur saat itu saya bisa kuliah sambil bekerja, meski saya harus mengatur waktu sedemikian rupa antara bekerja dan menyelesaikan skripsi. Ada perasaan bahagia ketika saya bisa mendapatkan uang dari jerih payah sendiri meski jumlahnya belum seberapa. Sempat sebelumnya setiap semester saya mendapatkan beasiswa dari kampus, tapi berbeda rasanya ketika sudah mendapatkan gaji sendiri. Sampai akhirnya tepat 1 tahun saya bekerja di Lembaga tersebut saya mendapatkan panggilan di salah satu BUMN yang kantor pusatnya ada di Jakarta.
Sempat ragu saat itu ketika saya mendapatkan panggilan kerja di Jakarta, karena ketika nanti saya diterima berarti saya harus siap untuk tinggal di kota yang lebih jauh dari kota kelahiran. Saya harus menjalani rangkaian test yang membuat saya harus bolak balik enam kali Surabaya - Jakarta. Alhamdulillah saat itu saya mendapatkan tawaran untuk memberikan pelatihan tentang Manajemen SDM di biro kepegawaian salah satu PTN di Surabaya juga. Fee saya sebagai pemateri saat itu sangat cukup untuk membeli tiket kereta bolak balik Surabaya - Jakarta sebanyak 6 kali. Satu demi satu rangkaian test berhasil saya ikuti sampai akhinya saya mendapatkan surat pemberitahuan bahwa saya dinyatakan lolos dan diterima sebagai karyawan baru di Perusahaan tersebut. Bahagia tiada terkira, karena saat itulah saya merasakan benar - benar akan menjalani kehidupan yang baru, tinggal di Ibu Kota dan siap menghadapi segala tantangan yang ada disana.
Menjalani kehidupan di Ibu Kota itu tidak seperti yang ada di cerita FTV atau sinetron, indah - indah dan penuh kemewahan. Saya kost tepat di jantung Ibu Kota tapi berada di gang -gang sempit yang tertutup oleh gedung - gedung besar, sangat dekat dengan monas dan hanya tinggal jalan kaki saya bisa sampai ke sarinah, theater XXI, bahkan tidak begitu jauh dengan bundaran HI dan mall mewah di Jakarta seperti Plaza Indonesia dan Grand indonesia. Ketika saat itu orang - orang mengatakan kalau Jakarta macet, saya tidak percaya, hehehe. Satu tahun saat itu kehidupan saya hanya sekitar kost, monas dan kantor. Sesekali saya ke ancol dan beberapa tempat lain, dengan busway dan saat itu busway masih lancar jaya. Saya sangat jarang sekali melihat ada kemacetan di sekitaran daerah itu. Ya iya lah, dekat dengan istana negara, dan daerah yang penuh penjagaaan polisi lalu lintas. Bersih, rapi dan terawat plus sangat jarang terlihat adanya kemacetan. Baru setelah satu tahun lebih saya mulai ke mana - mana dan mengetahui bagaimana Jakarta sebenarnya , apalagi ketika saya sudah menikah dan tetap tinggal di Jakarta.
Saya bertemu suami saya di Jakarta dan ternyata kampung halamannya tidak jauh dari tempat saya lahir, hanya jarak satu kota. Berjuang bersama dari nol di Jakarta, menjadi kontraktor di daerah jakarta selatan dan sampai kemudian Allah memudahkan kami untuk mempunyai rumah di pinggiran Jakarta,dekat dengan universitas terbaik di Indonesia. Dua anak saya lahir ketika saya masih menjadi pekerja kantoran. Sempat pindah tempat bekerja setelah 6 tahun bekerja di tempat yang lama, diterima di salah satu Anak perusahaan Telkom karena pertimbangan satu - satunya adalah saya ingin mencari tempat kerja yang dekat dari rumah, sehingga saya lebih punya banyak waktu dengan anak - anak. Sekarang status saya sudah menjadi Ibu rumah tangga yang full time di rumah setelah hampir 10 tahun saya berstatus sebagai wanita karir. Saya sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus untuk keluarga tanpa terganggu rutinitas pekerjaan kantoran seperti yang pernah saya tulis di sini.
Perjalanan hidup yang saya alami begitu banyak memberikan cerita yang berharha untuk saya kenang dan menjadi pelajaran. Seringkali saya rindu dengan kampung halaman dan berharap suatu saat saya akan bisa menghabiskan waktu tua saya bersama suami di sana, ketika anak - anak sudah besar dan mandiri. Tapi saya percaya bahwa Allah selalu punya rencana yang indah untuk saya, tinggal bagaimana saya menjalani kehidupan ini dengan sebaik - baiknya, penuh rasa syukur dan ikhlas. Salamku buat kampung halamanku ketika kalian nanti melewatinya, karena meski telah lama saya jauh dan meninggalkannya, tapi dia adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah terlupa dan selalu akan saya sempatkan untuk mengunjunginya.
#ODOPbatch5
#Onedayonepost
#Tantangan1
#ODOPKelasnonfiksi
#Kelasnonfiksi

Comments