Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Mencatat Pengeluaran Keuangan, Perlukah??

Hari ini saya ingin menulis tentang pengelolaan keuangan keluarga. Buat apa coba? Ya buat menyemangati diri saya sendiri, hehehe. Ibu - ibu manis yang lumayan boros dan harus ekstra semangat untuk bisa menabung karena keinginan beli ini itu yang menggebu. Belum untuk urusan anak - anak yang semakin gede semakin banyak kegiatan, harus pintar - pintar mengatur prioritas mana yang harus didahulukan, mana yang harus di tahan - tahan.
Sebenarnya niat saya untuk mencatat segala hal ikhwal tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan sudah ada sejak saya mulai menikah. Niat...iya niat, tapi actionnya selalu terhempas manis di tengah jalan, padahal belum sebulan. Mulai dari saya beli buku kas di gramedia sampai saya punya aplikasi pencatatan keuangan di laptop. Awal -  awalnya selalu semangat tapi tengah perjalanan akhirnya banyak lupanya, hehehe.
Setelah beberapa tahun saya ikuti air yang mengalir dan tidak mencatat pengeluaran saya tiap harinya, saya merasakan ada beberapa pos yang tidak ter…

Kebersamaan di "Bumi"

Berawal dari saya lolos seleksi untuk menjadi salah satu bagian dari komunitas One Day One Post Batch 5, lalu saya dipertemukan dengan teman - teman dalam satu group whatsapp dengan nama kelompok "Bumi". Menyelesaikan  tantangan demi tantangan, sampai pada tantangan terakhir yaitu menulis 10 episode cerita bersambung dan akhirnya group ini harus dibubarkan karena tantangan sudah selesai. Sedih.....☹☹
Sebenarnya pas nulis ini saya ngerasa ga enak, merasa adanya kebersama-an tapi saya-nya dulu banyak diam dan hanya menyimak, sesekali ikut berkomentar tapi itu juga jarang sekali. Disamping memang saya susah mengikuti alur obrolan yang seperti kecepatan cahaya, saya juga merasa pengetahuan dalam bidang menulis amat sangat kurang, hingga akhirnya saya lebih memilih untuk menjadi pembaca yang budiman. Beneran...maafkan saya yach teman - teman. Hiks
Kesan saya selama di kelompok "Bumi" hanyalah tersisa hal - hal yang manis. Ketika semua anggota diminta meninggalkan group…

Club Taekwondo "O2TC" di Depok

Setelah di tulisan sebelumnya saya pernah menceritakan kegiatan raihan dan afifah yang salah satunya adalah taekwondo. Sekarang saya ingin menceritakan lebih detail tentang club tempat anak - anak latihan taekwondo yang bernama O2TC. Siapa tahu nanti ada ibu - ibu seperti saya yang ingin mencarikan tempat latihan taekwondo untuk anaknya dan searching di internet,  menemukan tulisan saya di blog ini dan bisa dijadikan referensi^^.

Tentang Club Taekwondo O2TC
O2TC ini berada di GOR Kesang, jalan Kalimantan Raya, Beji, Depok, tidak jauh dari SDIT Al Muqorrobin. Nama O2TC sendiri merupakan singkatan dari 2 nama sabeum-nya (sabeum : sebutan pelatih untuk taekwondo), Ochied dan Odie. Latihan dijadwalkan seminggu 2 kali yaitu hari selasa dan sabtu setiap jam 15.30 s.d jam 17.45 Wib untuk kelas reguler, sedangkan untuk kelas prestasi dari senin - sabtu tiap jam 19.00 - 21.00 Wib. 
Fasilitas dan Pengembangan
O2TC memiliki tempat latihan yang menurut saya sangat representatif dan layak untuk tae…

Hikmah Ketika Kaki Bunda Terkilir

Hari rabu kemarin afifah mengajak melihat mainan kesukaan-nya di margo city. Sudah saya janjikan dari hari minggu kemarin bersama ayahnya, tapi karena hujan kami batal ke sana. Kebetulan mas Raihan hari ini futsal sampai sore, jadi saya setujuilah permintaan afifah untuk kesana sekalian jemput mas-nya.
Tiba - tiba setelah saya menyelesaikan makan siang di lotteria, ada satu anak tangga yang tidak terlalu tinggi luput dari mata saya. Saya menginjak tidak tepat si lantai bawahnya, tapi pas pinggiran anak tangga sehingga saya terjatuh dengan sukses. Kretek, terdengar suara ketika saya jatuh, dan alamakkk, kaki saya sakit sekali yang sebelah kanan, pas di engkelnya. Tertatih tatih saya bangun di bantu afifah, duduk sebentar dan menahan rasa sakit yang ga karu - karuan. Agak lama saya duduk untuk mengurangi rasa sakit, tapi ternyata tidak begitu saja hilang. Tertatih tatih saya berjalan ke mushola yang masih satu lantai, berharap nanti dapat menyelonjorkan kaki. Terkilir itu sakit sodara …

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 10)

Aku menenangkan hatiku, sholat tahajudku semalam sepertinya membuatku lebih yakin untuk memutuskan hari ini aku harus bagaimana. Aku sudah melihat fisiknya, aku sudah tahu tentang orang tuanya dari mas Tedy, juga info tentang kelebihan dan kekurangan Fadhil. Sholatnya yang bagus, Dia juga sudah bekerja, sudah siap jika harus menanggung nafkah lahirku. Lalu apa?
Hari itu, aku tidak langsung menjawab iya pada ayahku, aku mengajukan syarat sebelum aku menjawab lamaran Fadhil dan keluarganya. Iya, aku ingin bertemu dengan orang tua Fadhil. Ini adalah sebuah proses sakral, aku tidak ingin gegabah untuk memutuskan ini. Buat aku, orang tua-nya melihat aku secara langsung itu penting. Mereka akan menjadi orang tuaku juga nanti, yang pasti akan banyak berhubungan denganku dan menjadi bagian penting dari mereka. Aku tidak peduli apakah nanti aku harus ke rumah Fadhil atau bagaimana cara yang lain, intinya aku bertatap muka dan berbincang dengan beliau berdua.
***
Hatiku tidak karuan, seperti a…

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 9)

"Apakah rasa cinta itu? Memikirkannya setiap hari kah? Berdebar -  debar setiap bertemu? Atau memimpikan hidup bersamanya nanti? Apakah aku harus mencintainya sebelum menikah? Atau berusaha mencintainya setelah menikah?"
Hatiku terasa bergemuruh, seperti debur ombak yang bingung antara kembali ke laut atau tetap menghempaskan tubuhnya ke pinggir pantai. Usiaku sudah 25 tahun, sudah sepantasnya untuk menikah. Bukankah ini yang aku idam - idamkan selama ini? Datang seorang laki - laki yang berani menemuni ayahku dan berniat serius denganku. Ini bukan mimpi, ini hal yang nyata, di depan mata. Mungkin berbeda ketika aku sudah sangat mengenalnya dan rasa suka sudah ada. Tapi, belum genap 3 bulan dari pertama aku tau namanya.
***
Aku membaca kembali cerita tentang pernikahan, cerita tentang perkenalan dua insan yang pada akhirnya disatukan dalam ikatan halal pernikahan. Dari yang sudah lama kenal sampai yang seminggu tahu nama, mulai dari yang pacaran sampao yang ta'arufan. Me…

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 8)

Laki - laki yang duduk membelakangi arah aku melihatnya, sepertinya aku kenal. Benar, dia Fadhil, laki - laki yang hampir 3 bulan ini kenal denganku. Kaget juga sih, berani juga ya dia datang ke rumah dan menemui ayahku. Aku pikir kemarin saat dia menyampaikan keinginan untuk menemuiku itu hanya bercanda. 
"Eh, beneran ya kamu datang ke sini?" Tanyaku ke Fadhil dengan wajah agak kaget. "Iya, aku kalau sudah ngomong kan berarti itu memang sesuatu yang akan aku lakukan, bukan basa - basi". Dia menjawab pertanyaanku dengan muka serius. 
Ayahku kemudian pamit ke belakang, sepertinya beliau memahami bahwa kamu perlu ngobrol berdua sebentar. Ibuku datang membawakan minuman untuk kami berdua dan untuk ayahku juga. Segelas es blewah yang sebenarnya ibu buatkan untuk aku tadi pagi, karena beliau tahu minuman kesukaanku itu.
Obrolan kami tidak begitu lama, karena Fadhil memintaku untuk memberikan waktu ke dia untuk ngobrol dengan Ayahku. Sepertinya tujuan dia ke sini memang…

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 7)

Aku benar - benar tidak tahu kalau dia akan naik kereta yang sama denganku. Kota asal kita memang berbeda, tapi masih satu arah dan lebih dulu kotaku daripada kotanya. Fadhil ini memang kadang aneh, diam tapi menyimpan banyak hal.
"Assalamualaikum, 15 menit lagi kereta datang loh, kamu di gerbong berapa?" Dia mendatangiku, mengucapkan salam dan meletakkan tangannya di depan dada. "Waalaikumsalam, gerbong 5, kamu memang naik kereta yang sama denganku?", tanyaku. "Iya, hehehe, aku gerbong 7, nanti kalau kamu perlu bantuan sms saja ya, aku akan siap", jawabnya sambil menawarkan bantuannya yang aku anggap hanya basa basi saat itu.
***
"Tuuttt...tuttt...tuttt", kereta api yang akan membawaku ke kota kelahiranku sudah datang. Bergegas aku naik sesuai nomor gerbongku dan mencari tempat dudukku.  Aku menyandarkan punggungku, ac di kereta ini dingin sekali, tapi terasa sejuk di hatiku. Naik kereta ke kampung halaman adalah perjalanan paling indah selama…

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 6)

"Sekarang aku hanya ingin mendiamkan hatiku, meyakini bahwa jodoh adalah rahasia dan takdir Allah. Aku hanya perlu menjemputnya dengan sebaik - baiknya, siapa yang Allah takdirkan untuk menjadi imamku"

Kata -kata dari Mas Tedy kemarin membuatku lumayan berpikir dan mengira - ngira yang disampaikannya itu serius atau bercanda. Aku dan Fadhil baru kenal, belum ada 2 bulan, buatku itu terlalu cepat untuk menyimpulkan dia mempunyai perasaan ke aku lebih dari teman. Apalagi dia baru putus dari "teman dekatnya". Jangan - jangan aku hanya sebagai pelarian, harus lebih hati - hati menghadapi situasi ini. Ah, sudahlah, aku tidak peduli.

"Tita, kamu pulang bulan desember ini?", tiba - tiba Fadhil menyapaku lewat chatline.
"Iya,kenapa? Aku pulang tanggal 21 desember nanti, baru mau cari tiket, takut kehabisan", jawabku, dan aku sudah melupakan apa yang disampaikan Mas Tedy, aku anggap itu semua bercanda. 
"Bareng ya, aku juga mau pulang bulan desember…

Tiga Bulan untuk Selamanya (Bagian 5)

"Kehadiran orang ketiga meskipun hanya dalam pertemanan, terkadang membuat kita harus berani menentukan pilihan, apakah kita harus tetap mempertahankan hubungan pertemanan itu atau menjaga jarak demi kebaikan semua".
***
Jalan dari kost ke tempat kerja sudah biasa aku lakukan ketika aku malas menunggu bus kota dan angkot. Disamping untuk menjalankan hidup sehat, aku juga punya target menurunkan berat badan, hahaha. Sambil berjalan menyusuri trotoar yang cukup bersahabat dengan pejalan kaki, pikiranku mengingat kembali pesan dari perempuan bernama Rani. Siapa dia? Tiba - tiba ingin mengajakku berkenalan dan mengobrol. Ah, nanti sajalah kutuntaskan semua setelah sampai di kantor dan pekerjaanku sudah selesai.
***
Rapat rutin mingguan kali ini terasa cukup lama, dengan pembahasan yang belum mendapatkan titik temu dari masalah yang dihadapi. Ingin sekali ambil cuti nanti bulan desember,masih 2 bulan lagi. Pulang ke kampung dan bertemu ibu untuk menuntaskan semua kerinduan. Biasa…

Tiga Bulan untuk Selamanya (bagian 4)

Ini sudah 1 jam berlalu dan aku hanya bengong melihat laptopku yang mati. Berharap laptop ini akan nyala ketika sudah kering dan aku bisa pindah data ke harddisk internal yang aku pinjem dari temanku. Aku rapal semua doa, membayangkan semua dataku hilang itu kayaknya lebih berat daripada ketika aku kehilangan HPku dua bulan yang lalu.
"Mas Tedy, laptop aku rusak, mati total, aku harus bagaimana?", tiba - tiba aku teringat telepon mas Tedy yang lulusan tekhnik dan terbiasa dengan laptop dan komputer. "Heh, kok bisa??, nanti aku telepon lagi ya, masih meeting", telepon di tutup begitu saja. Ihh, tahu gitu tadi aku tidak usah telepon aja lah, bikin habis pulsa. Aku bete' sebenarnya sama laptopku, tapi rasanya jadi sensi sama semua orang. 15 menit kemudian, teleponku berbunyi, nomor yang tidak tersimpan dalam HP-ku.
"Laptopmu kenapa? Rusak?" Tiba - tiba suara disana yang masih belum familiar menanyakan keadaan laptopku. "Ini siapa ya? Kok tahu lapto…

Tiga Bulan untuk Selamanya ( Cerbung Bagian 3)

"Tidak ada yang spesial, karena dia sama seperti yang lain, hanya teman. Tapi berada di dekatnya membuatku merasa punya sahabat terbaik di perantauan, yang siap sedia ketika aku membutuhkan"

****


Akhirnya aku datang juga ke bioskop meski agak telat. Sebelumnya aku sms Fadhil minta untuk tidak dibelikan tiket dulu karena aku khawatir terlambat dan tidak jadi nonton hari ini. Aku merasa tidak nyaman bertemu dengan laki - laki yang belum aku kenal sama sekali dan sendirian. Ternyata dia sudah duduk di ruang tunggu dan dia sendirian juga. Saat itu aku langsung memutuskan untuk say hello sebentar dan membeli tiket yang kursi-nya berjauhan dengan dia. Menurutku perkenalan pertama ini sudah cukup hanya sekedar melihat secara nyata, dan aku tidak sedang kenalan dengan dedemit. Dia benar  - benar manusia, yang lebih tinggi dari aku mungkin sekitar 10 cm, rambut ikal dan tebat, berkulit sawo matang serta tipikalnya yang sepertinya pendiam dan tidak banyak ngomong.

Semenjak pertemuan pe…

Tiga Bulan untuk Selamanya ( Cerbung Bagian 2)

"Siapa kamu? Aku tidak peduli. Yang aku tahu, ketika pertama kali kita bertemu aku merasakan kenyamanan itu"

****
Bulan ini pekerjaan seperti tidak ada habisnya. Hari sabtu yang seharusnya aku bisa bermanja dengan diriku sendiri, lagi - lagi harus aku gunakan setengah hari-nya di kantor. Secangkir kopi cream dan biskuit biasanya menjadi teman setiaku ketika dikejar deadline pekerjaan. Sesekali aku membuka chatline disaat otak sudah mulai lelah menyelesaikan lembar demi lembar rekap yang seperti tidak ada habisnya.

Nama id itu tiba - tiba muncul untuk meminta aku approve. Oh ya, sudah seminggu ini aku mengabaikan nama itu,  tidak aku kenal dan tidak penting juga untuk aku approve. Tapi tidak tahu kenapa, tiba - tiba tanganku seperti tidak sinkron dengan pikiranku. Klik, dan akhirnya nama itu menjadi salah satu teman yang bisa setiap saat aku tanya siapa dia dan darimana asalnya.

"Assalamualaikum, maaf mba ini dengan siapa, saya lupa kok tiba - tiba ada di list friend sa…

Tiga Bulan untuk Selamanya ( Cerbung Bagian 1)

"Masa depanmu bisa datang tanpa kamu duga dari mana, bahkan mungkin kamu pernah berada disekitarnya sebelum kamu mengenalnya".
Ini tulisan kesekian yang telah kucoretkan di baris - baris rapi yang selalu menemaniku disaat aku ingin sendiri dan melepas kepenatan. Mengingat satu demi satu perjalanan mengenalnya adalah hal terindah dan lumayan panjang yang akan aku tuliskan nanti. Mungkin tidak cukup hari sehari, karena aku ingin detail menari-kannya di pikiran dan ingatanku. 

****
Pagi - pagi mendung menggelayut dan rasanya malas sekali bangun dari peraduan. Kamar dengan ukuran 2.5m × 2.5 m ini sangat nyaman buatku, meski hanya cukup untuk 1 kasur ukuran 90cm x 100cm, 1 lemari kecil dan 1 meja kecil. Tinggal jauh dari orang tua dan tanpa siapapun di kota ini membuatku harus disiplin mengatur waktu dan memanfaatkannya, apalagi kalau week-end, karena semua terserah padaku. Ingin tidur dari sore sampai malam, ingin nonton film di laptop 10 jam full atau bengong tidak melakukan apa…

Penting Gitu Pacaran?

Saya suka banget film Dilan dengan segala kesederhanaan penggambaran bentuk kasih sayang dan interaksi antar generasi-ya,  tapi bukan berarti saya setuju kalo masa muda perlu banget diisi dengan pacaran, bahkan kalo nanya ke saya pasti akan saya jawab tegas, ngapain pacaran. Saya tidak akan mengomentari dari sisi agama, bisa kalian cari di buku, googling atau nanya itu ke ustadz / ustadzah, apakah boleh pacaran dalam islam. Saya hanya mencoba dari sisi saya sendiri, pengalaman dan bagaimana saya pernah melewati masa muda. Saya sedang tidak menggurui loh, karena saya tidak memaksa siapapun setuju dengan pendapat saya.
Pacaran itu menyenangkan, hati berbunga bunga, apalagi kalo pas kangen gebetan tiba - tiba dia nelpon atau sms ( jaman sekarang WA kali ya), trus pas lagi kita seneng - senengnya sama dia, eeee tiba tiba dia ngomong "aku suka kamu, mau jadi pacarku", waaaw..rasanya pengen terbang ke langit, ga bisa dibayangkan deh rasa hati gimana. Tapi..itu kalo pas lagi dapat…

Senja di Sudut Merdeka

Namaku Tita Ini adalah ceritaku yang kedua, yang aku tulis di buku diary biru, warna kesukaanku. Pojok taman ini adalah tempat favoritku disaat aku ingin menyendiri, menikmati masa lalu yang menurut aku semua adalah kenangan yang berharga dan perlu sesekali aku nikmati desir - desirnya di hatiku. Sebuah sudut taman di jalan merdeka, di pusat peradaban Ibu kota.
"Bruk...", sebuah ranting jatuh tepat di depanku, tepat ketika kereta api executive itu melaju dan berderet bus damri yang akan menuju bandara di ujung Ibu kota terlihat tepat di kejauhan mataku. Stasiun itu, kenapa begitu banyak kenangan di sana. Kenangan ketika aku memulai segala kisah hidupku di jantung Ibu kota, pertama kali aku menginjakkan kaki dan berusaha menjadi diri sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Aku tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu, cukup mbak yang tahu ya aku akan ke Jakarta mengikuti test kerja ini", cukup tegas aku sampaikan ini ke kakak ke dua-ku. Iya, senin sore aku mendapa…

Kereta dan Kenanganku

Aku merindukanmu..
Rindu dinginnya bersamamu.. Bersama malam... Bersama suara khasmu .
Aku merindukanmu... Bersamamu menuju tempat bahagiaku Tempat dimana aku terlahir.. Tempat indah yang tidak akan terganti
Ada kalanya sulit untuk mendapatkanmu Bersaing dengan banyak orang Karena kau memang pilihan Memberikan kenyamanan.. Memberikan kepastian...
Aku Merindukanmu... Sendiri bersandar padamu Sambil merasakanmu memecah keheningan Gelap namun menyenangkan Dan aku nyaman bersamamu
Suatu saat aku harus bersamamu lagi Menikmati semua kenangan itu Kenangan ketika aku masih sendiri Menuju kota kelahiranku Yang nanti...aku akan ditemani orang orang terkasihku
Kereta Bima.. Kereta kenanganku.. Kereta yang membuatku hatiku selalu berdesir Banyak cerita ketika aku bersamanya Menyimpan segala memori indah Atau bahkan memori yang seharusnya aku buang
Ah....dan tiba tiba aku rindu masa itu..


#ODOPbatch5 #Onedayonepost